• Diposting oleh: admysbu    19/04/2016 0:50
    Catatan Iman “Aku Jenuh, Aku Bosan, tapi CintaNya Menyegarkan dan Menguatkan Aku”

    Tugas Perutusan Karya Pendidikan

    Seusai menyelesaikan studi S-1, aku menerima tugas perutusan pertama dengan penuh semangat di karya pendidikan. Berada di antara para siswa memberikan kegembiraan bagiku. Aku merasa enjoy mendapat tugas perutusan sebagai guru walaupun terkadang aku merasa jengkel berhadapan dengan siswa yang sulit di bimbing. Dua tahun sudah aku bersama para siswa di SMA Pius Bakti Utama, Bayan. Tiba waktuku berpindah tugas di Kebumen sebagai Kepala SMP Pius Bakti Utama.

     

    Desolasi Kebumen, Kota Kenangan

    Aku mendapat tugas perutusan baru yang semakin kompleks di Kebumen. Tugas di sekolah. Tugas di komunitas. Tugas di paroki. Ritme aktivitas kehidupan dalam karya dan doaku menjadi tidak selaras; tidak teratur. Aku mengalami kejenuhan, kebosanan; tiada daya lagi untuk menjalani panggilan dan tugas perutusan di karya pendidikan.

     

    Lagi-lagi tentang Cinta!

    Suasana hati tidak tenang dan nyaman. Inilah yang aku rasakan. Aku ingin berhenti dari tugas perutusan di karya pendidikan. Aku ingin menjalankan tugas perutusan di karya sosial saja, karya yang aku sukai. Dalam pergulatan tugas perutusanku di kota inilah, seorang guru mengatakan kepadaku:”Suster cobalah belajar untuk mencintai karya pendidikan”. Aku tersentak! Perkataannya mengingatkan aku pada seorang frater ketika aku menjalani tugas studi; ”… belum mencintai tugas sehingga merasa sulit, cobalah untuk mencintai maka segala kesulitan dapat diatasi dan tidak menjadi beban”.

     

    Doa dan Dukungan

    Aku merefleksikan perjalanan tugas perutusan ini. Yah, kusadari aku melaksanakan tugas perutusanku bukan dengan cinta yang tulus. Aku melaksanakan tugas perutusanku hanya karena ketaatan maka aku menjadi cepat lelah dan kehidupan doa menjadi tidak teratur. Aku menyadari, doa adalah nafas; roh yang menjiwai dan menjadi kekuatan perjalanan hidup sehari-hari. Hal ini membangkitkan semangatku untuk menata kembali hidupku, memprioritaskan hidup doaku, mempersembahkan segala pengalaman dan tugas-tugasku pada Tuhan serta mohon rahmat cinta agar aku mampu melaksanakan tugas perutusanku dengan cinta yang tulus.

     

    Aku mengalami jatuh bangun dalam menjalankan tugas perutusan. Aku merasakan Allah hadir dengan caraNya yang ajaib, Ia meneguhkan perjuanganku ketika aku mau berhenti. Aku berhasil melewati saat-saat sulit dan mulai menjalankan tugas dengan cinta karena kekuatan doa dan dukungan teman-teman. Cinta, mendorong dan meneguhkan aku untuk berjuang.

    Cinta mampu mengatasi segala kesulitan.

    (Sr. Priska, ADM)