SEJARAH

  • 1.     LATAR BELAKANG

    Berawal dari permintaan Mgr. B.J.J. Visser MSC kepada Dewan Umum Konggregasi suster Amal Kasih Darah Mulia (Zr. Celestine Van Gorp, pemimpin Umum periode 1932 – 1938) untuk berkarya di Jawa. Dalam surat kepada Mgr. B.J.J. Visser MSC. tertanggal 2 Januari 1933, Sr. Celestine menyampaikan kesanggupan untuk mewartakan keselamatan dan kasih Allah di Jawa. Konggregasi telah mendapatkan ijin dari Mgr. Dr. J. H. G Lemmens untuk mendirikan rumah di Kutoarjo.

    Pada tanggal 20 Juni 1933 lima orang suster (Zr. Amanda, Zr. Romana, Zr. Egidia, Zr. Salome, Zr. Theresa) tiba di Kutoarjo. Kehadiran para suster mendapat tanggapan yang baik. Pada masa itu di Kutoarjo sudah ada  Holland Inlandse School (HIS) Sekolah untuk anak-anak Jawa, dan Holland Chinese School Sekolah anak-anak Cina milik seorang pangeran Jawa. Setelah adanya suster, sekolah tersebut diserahkan kepada para suster. Meskipun kemampuan berbahasa para suster masih sangat terbatas, hal ini tidak menjadi halangan untuk mewartakan karya perutusan. Dengan bantuan seorang ibu yang menuliskan beberapa kalimat, para suster menghafalkan untuk mengenal penduduk sekitar. Penduduk yang saat itu belum mengenal suster, Para suster membutuhkan keberanian, pengorbanan yang tidak sedikit, waktu,  kesabaran dan ketabahan untuk mengenal penduduk sekitar. Pada awal tahun ajaran baru, usaha para suster mulai membuahkan hasil. Jumlah murid bertambah, sehingga setelah tiga bulan kelas-kelas terisi secara memadai. Suster mulai membuka Taman Kanak-Kanak.

     

    2.     TEMPAT DAN TANGGAL PENDIRIAN

    Taman Kanak-Kanak mulai dibuka pada tanggal 1 Juli 1936. Taman Kanak-kanak ini mendapat ijin operasional pada tanggal 1 Agustus 1939. Perang mengubah segalanya, karena situasi perang dan pada saat itu Indonesia diduduki oleh Jepang, maka pada tanggal 6 Maret 1942 sekolah ini ditutup.

    Setelah kondisi negara Republik Indonesia merdeka, situasi masyarakat mulai kondusif, pada tanggal 1 Oktober 1946 TK Pius dibuka kembali hingga sekarang.
     
    ?              Kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan anak usia dini semakin berkembang, sehingga pada tanggal 6 Agustus 2011 TK Pius Bakti Utama Kutoarjo membuka layanan Kelompok Bermain.

     

    3.     PENDIRI – PENDUKUNG

    Suster-suster Amal Kasih Darah Mulia mengembangkan karya pendidikan untuk masyarakat sekitar untuk anak usia dini. Karya pendidikan ini di pelopori oleh Zr. Romana.

    Setelah Indonesia merdeka dan masyarakat membutuhkan pelayanan pendidikan katolik, maka pada tahun 1945, Sr. Philothea dengan dibantu oleh seorang guru membuka dan mengelola Taman Kanak-kanak. Taman Kanak-Kanak Pius tercatat pada Surat Keputusan Yayasan Pius Pusat Nomor: 684/A-YP/SD/1983/PB yang menyatakan bahwa Sekolah Taman Kanak-Kanak Pius Bakti Utama yang terletak di Jalan Marditomo no 29 Kutoarjo telah didirikan pada tanggal 01 Oktober 1946.

     

    4.     TUJUAN PENDIRIAN

    Pada awal pendirian Taman Kanak-Kanak adalah untuk mewartakan keselamatan dan kasih Allah kepada sesama. Mengingat pada masa itu masyarakat belum mengenal sosok suster. Sosok suster saat itu menjadi seorang teladan iman bagi umat katolik secara khusus dan masyarakat luas. Para suster yang berasal dari luar negeri dan memiliki banyak pengetahuan dan ketrampilan yang belum dimiliki oleh masyarakat, menjadikan karya pendidikan sebagai misi untuk menyatakan kasih Allah.

     

    5.     PERKEMBANGAN SEKOLAH

    Sejalan dengan bergulirnya waktu, perkembangan karya pendidikan para suster Amal Kasih Darah Mulia di Kutoarjo semakin bertumbuh dan berkembang. Hal ini terlihat pada bantuan tenaga suster dari Belanda untuk memperkuat komunitas dan karya kerasulan di Kutoarjo.

    Dengan semangat sasanti Kongregasi “Di bawah ada salib, di atas ada sukacita, dimana mana ada cinta” yang sungguh dihidupi oleh para suster ADM. Kesulitan dan keprihatinan tidak tidak menjadikan para suster putus asa, tetapi sebagai tantangan yang harus dihadapi. Semboyan “Demi Kasih kepada Tuhan dan demi kasih kepada sesama manusia” menjadikan para suster kreatif mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan sesamanya.

    Penjajahan Jepang meninggalkan banyak penderitaan, kemiskinan dan kebodohan luar biasa. Kekayaan alam terkuras habis, pendidikan tidak diperhatikan, kelapran terjadi dimana mana.

    Para suster melihat bangsa Indonesia sangat membutuhkan pendidikan. Pendidikan menjadi sebuah kebutuhan sekaligus sebagai peluang untuk mengangkat kehidupan masyarakat supaya menjadi lebih baik.

    Setelah tentara Jepang pergi, para suster memanfaatkan 4 ruang kosong untuk membuka Taman Kanak-Kanak yang diawali dengan beberapa murid.

    Dalam perkembangan  Karya Pendidikan di Keuskupan Purwokerto, Taman Kanak-Kanak Pius Bakti Utama pada tanggal 29 September 1993 memperoleh pengakuan sebagai Sekolah Katolik Keuskupan Purwokerto. Taman Kanak-Kanak Pius Bakti Utama memperoleh Ijin Pendirian dan Penyelenggaraan Taman Kanak-Kanak  dari Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah dengan nomor : 079.02/I03.26.06/DS/1998.